When the mobile phone sales will decrese
Dengan iMessage sebuah game gadget dan music player gadget bisa digunakan untuk chatting. iPod Touch dengan iOS 5 bisa menggunakan iMessage. Tentunya bila terkoneksi dengan internet lewat WiFi. Di Indonesia beberapa pengguna iPod Touch adalah pelajar. Mudah untuk mereka minta ke orang tuanya karena alesannya adalah untuk dengerin musik dan/atau main game. Disisi lain mereka sudah punya handphone. Salah satu alasan orang tua memberikan handphone ke anaknya adalah agar mudah berkomunikasi. Mudah dihubungi ketika anaknya sedang pergi dengan teman-temannya.
Sebagai anak yang sedang bersama teman-temannya dan kemudian ditelpon oleh orang tuanya pasti merasa terganggu. Maka kemudian Blackberry dengan BBM nya jadi solusi. Semakin mudah berkomunikasi tanpa harus ada telpon masuk. Nah kalau sudah ada iMessage yg bisa digunakan untuk berkomunikasi (sebenernya untuk tahu anaknya sedang apa dan dimana), berarti mobile phone sudah tidak lagi menjadi urgent. Orang tua tinggal memastikan tempat yang dituju anaknya ada koneksi internet dengan WiFi.
Si anak jg nggak terganggu dengan tiba-tiba ada telpon masuk dengan ID caller “bunda”. Hahaha.
Regards,
Rama
Technology for People
It’s not about who found first the technology, it’s about who make those technology become easy to use to people.
Steve Jobs with Apple did that.
Every their new product or applications roll out there are some people that saying “that’s like xx”.
But at the end the majority saying that Apple found it first.
Reunion Manager
How to conquer the world?
Do the consumer research in Indonesia.
Have your developers from India.
Get the genius & researcher from Israel.
Build your hardware in China.
Have your creatives from UK.
Strike a deal at New York.
The people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.”
— Apple - Think Different
Sangkar Emas
Regards,
Rama | Ramya Prajna S.
Ayah Yang Adil
“Maruto Muda Dalam bin Maruto Darusman”. Sangat detail. Regards,
Rama | Ramya Prajna S.
Kecewa
Regards,
Rama | Ramya Prajna S.
Gelap Dalam Tidur
Rama | Ramya Prajna S.
Rula’s morning
Pagi ini, entah saya berlebihan atau tidak, tp sepertinya melihat muka Rula sangat sedih. Tidak ada yang luar biasa pagi ini. Rula malas-malasan siap-siap ke sekolah seperti biasa. Lambat melakukan ini itu, karena seberapa kerasnya kita ‘meracuni’ dia dengan bahwa kesekolah itu menyenangkan tapi ya tetap saja sekolah adalah sekolah: bangun pagi, siap-siap, rutinitas sekolah.
Rutinitas desakan siap-siap sampai di kegiatan pakai kaos kaki. Ternyata nggak ada di laci, dan dia cuman bilang “kaos kaki nya nggak ada”. Tidak dicari. Hal ini mungkin karena sering kali dia habis mandi kemudian seragamnya tidak ada dilaci yang terjadi adalah seragam nya diambilkan karena dia tidak pakai baju. Setelah kaos kaki diambilkan dan akan dipakai ternyata dia bilang “ini kan beda”, memang beda ternyata, berbeda sedikit dan kalau dipakai bagian yang berbeda itu pasti nggak keliatan. Awalnya saya paksakan saja, toh nggak keliatan dari luar. Tapi nggak lama kemudian saya mikir, kalau saya pakai kaos kaki nggak sama pasti rasanya aneh. Kita tahu itu nggak keliatan, tapi kita sendiri yang pakai tahu, jadi nggak comfort. Sering sekali saya merasa seperti itu untuk sesuatu yang tidak sesuai walau cuman saya yang tahu. Karena itu kemudian saya coba untuk carikan kaos kaki yang benar.
Setelah masalah kaos kaki selesai kemudian ada beberapa hal (seperti biasa) yang mengikuti. Yang pasti bikin ayah-ibu nya marah. Tapi kemudian saya berusaha berempati, kalau saya sedang berat hati melakukan sesuatu (walaupun saya tahu itu sesuatu yang baik) hal yang paling tidak ingin saya dapatkan adalah tekanan/nada tinggi dari orang lain.
Pagi itu Rula kebetulan bukan diantar oleh saya. Saya mengantar saja ke garasi. Sebelum pergi saya mendengar Rula mendapatkan nada tinggi lainnya. Dan kemudian dia pergi meninggalkan rumah dengan muka sedih :(
